liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
ronin86
cocol77
cocol77
cocol77
maxwin138
Senasib Nikel, Hilirisasi Bauksit Berpotensi Didominasi Investor Cina

Investor Tunggu Langkah Tegas Pemerintah dalam Larang Ekspor Bauksit

Perusahaan tambang milik negara, PT Aneka Tambang (Antam), mendukung langkah pemerintah mengakhiri larangan ekspor bauksit pada Juni lalu. Direktur Utama Antam Nico Kanter mengatakan, langkah tegas pelarangan ekspor akan memberikan kepastian kepada investor untuk membangun pabrik pengolahan atau peleburan mineral di dalam negeri.

“Harus ada konsistensi dari pemerintah. Kalau pemerintah tiba-tiba minta relaksasi atau pengecualian, pasar akan lihat. Orang yang mau investasi di smelting malah lambat,” kata Nico di Jakarta, Kamis (6/4).

Ia berharap pemerintah bisa mengantisipasi hal-hal negatif saat program hilirisasi bijih nikel dibahas. Nico mengatakan, saat itu para pengusaha menyiapkan dokumen Studi Kelayakan (FS) pembangunan smelter untuk mendapatkan pembebasan larangan ekspor pemerintah.

Setelah pemerintah memberikan relaksasi tersebut, sejumlah pengusaha memilih tidak melanjutkan rencana pembangunan smelter tersebut. “Rumor pemerintah akan menangguhkan larangan itu seperti pengalaman kebijakan nikel, itu yang bikin rusuh,” kata Nico.

Sekretaris Perusahaan PT Antam Faisal Alkadrie mengatakan perseroan siap merespons larangan ekspor bauksit pada pertengahan tahun ini sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba). Kebijakan hilirisasi produk mineral mentah diatur secara khusus dalam Pasal 170A UU Minerba.

Faisal menambahkan, Antam tengah berupaya meningkatkan penyerapan bauksit dalam negeri melalui PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) serta mengembangkan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah bersama Inalum. Melalui PT ICA dan smelter baru di Mempawah, pasar penyerapan bauksit perseroan dapat tetap stabil meski tidak diekspor ke pasar internasional.

“Sejauh ini 40% produk bauksit Antam sudah mulai dipasarkan di pabrik dalam negeri. Kami sudah mulai bersiap menghadapi larangan ekspor, dengan kata lain kami tidak goyah,” ujar Faisal.

Sebelumnya, Kementerian ESDM meminta pelaku usaha pertambangan bauksit tidak khawatir produksinya tidak terserap karena masih belum memiliki smelter.

Ini menjelang kepastian larangan ekspor yang berlaku pada Juni 2023. Sambil menunggu penambahan kilang secara bertahap, pemerintah memastikan produksi bauksit tahunan dapat terserap seluruhnya oleh empat smelter yang ada.

Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bidang Percepatan Pengelolaan Mineral dan Batu Bara (Minerba), Irwandy Arif, mengatakan total asupan bauksit dari empat smelter yang ada mencapai 13,9 juta ton dengan produksi 4,3 juta ton. alumina.

Kapasitas input ini diklaim mampu menyerap seluruh produksi bauksit dalam negeri secara keseluruhan. Irwandy juga meminta produsen bauksit untuk menitipkan hasil tambangnya ke empat perusahaan yang sudah memiliki smelter swasta.

Keempat perusahaan tersebut adalah PT Indonesia Chemical Alumina, PT Bintan Alumina Indonesia, PT Well Harvest Winning Alumina Refinery Line-1 dan PT Well Harvest Winning Alumina Refinery Line-2.

“Penambang tidak perlu khawatir, kalau tidak bisa ekspor, bisa menjual ke empat perusahaan yang sudah mendirikan pabrik pengolahan yang sudah beroperasi, ini sangat mudah,” ujarnya saat diskusi capacity building untuk Mineral Sector Media di Hotel Ashley Jakarta pada Rabu (8/3).

Dalam kesempatan tersebut, Irwandy juga menginformasikan bahwa ada delapan pabrik pengolahan bauksit yang masih dalam tahap pembangunan. Kedelapan kilang tersebut diperkirakan mampu mengolah 23,88 juta ton bijih bauksit menjadi 8,98 juta ton alumina setiap tahunnya.

Delapan kilang itu milik PT Borneo Alumina Indonesia dengan progres proyek 23,67%, PT Dinamika Sejahtera Mandiri 58,55%, PT Persada Pratama Cemerlang 52,61%, dan PT Sumber Bumi Marau 50,05%.

Selain itu, ada juga laporan dari PT Quality Sukses Sejahtera yang menyebutkan progres pembangunan pabrik refinery sudah mencapai progres 57,20%, PT Parenggean Makmur Sejahtera 58,13%, PT Kalbar Bumi Perkasa 37,25%, PT Laman Mining 32,39%.